Pengumuman


Selamat datang ke Kecikbeso

Apr 18, 2017

Wahh.. terbaik untuk pengetahuan anda semua yang suka sangat berdiet tu kan,, sudah semestinya tak cukup dengan senam tapi penjagaan makanan pun penting dalam gaya hidup sihat,, ok sekarang saya akan senaraikan 4 jenis makanan yang membuat anda seksi dan sado..

Pertama adalah telur, kenapa telur? tak caya kan? Telur sememangnya makanan super sihat yang kaya dengan sumber protein untuk membangaun dan memperbaiki sistem otot dalam tubuh badan, Kandungan zat besi dalam telur dapat  mengekalkan tenaga dan kejang otot setelah letih seharian.. haaa,, jangan lupa telur juga sangat kaya dengan kolestrol yang sihat.. dan saya syorkan hanya makan telur sebiji atau dua sehari, jangan lebih..

Kedua sayuran yang berdaun hijau,seperti sawi, kangkung, atau selada kaya vitamin dan mineral yang membantu dalam pemulihan dan perbaikan otot. Sayuran hijau juga kaya tenaga yang diperlukan untuk proses pembakaran otot dan mengembalikan glikogen yang hilang setelah olahraga. Kandungan kalsium, magnesium, zat besi, dan vitamin A, D, E, atau K bermanfaat untuk mendukung kesihatan tubuh anda secara keseluruhan.

Ketiga pula, daging tanpa lemak sangat bermanfaat untuk pembangunan otot karena kandungan asid amino esensial di dalamnya. Selain itu protein dalam daging juga bermanfaat untuk mempercepat pemulihan serat otot menjadi kembali kuat.

Keempat adalah oat,Karbohidrat kompleks sangat diperlukan untuk memberikan tenaga yang diperlukan dalam masa pembentukan otot. Oat merupakan makanan tinggi karbohidrat kompleks namun tinggi serat yang berfungsi untuk menstabilkan kadar gula darah serta mengontrol nafsu makan.

Jika anda sedang berupaya untuk membentuk otot tubuh? Cubalah untuk rajin konsistent  makanan di atas setiap bulan.. selamat mencuba.. 

Posted on Tuesday, April 18, 2017 by Tun Aidil

No comments

Nov 28, 2015


Kawan Share je!!

Kisah luar biasa dan membuat orang Islam merinding!! Aslina, seorang gadis Bengkalis dua jam mati suri, diperlihatkan berbagai kejadian di akhirat. Semoga kita mengambil pelajaran untuk meningkatkan keimanan!
Adi Sutrisno,
Wartawan Riau Mandiri
Sempat dinyatakan meninggal dunia, Aslina alias Iin (23) ternyata mengalami mati suri selama dua jam dan koma dua hari dua malam. Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bengkalis Riau itu mengaku selama mati suri, ia diperlihatkan berbagai kejadian alam barzah dan akhirat, serta beberapa kejadian yang menyangkut amal dan perbuatan manusia selama di dunia. Di hadapan sekitar 50-an orang, terdiri dari pegawai honor tenaga kesehatan Bengkalis, warga masyarakat serta sejumlah wartawan, Aslina, Rabu (3/9)kemarin, di aula studio TV Sri Junjungan Televisi (SJTV) Bengkalis, mengisahkan kejadian ghaib yang dialaminya itu.
Menurut penuturan Iin yang didampingi pamannya, Rustam Effendi, sejak tiga tahun lalu ia menderita penyakit kelenjar gondok alias hiper teroid. Karena penyakitnya itu, Pada 25 Agustus silam, gadis ini ditemani Rustam Effendi berobat ke rumah sakit Mahkota Medical Center (MMC) Malaka. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dokter mengatakan operasi baru bisa dilakukan setelah tiga bulan, karena waktu itu tekanan darah tinggi. Namun pada Sabtu (26/8) tengah lama, kondisi anak sulung tiga bersaudara ini kritis, koma. Sang paman sempat memandunya membaca dua kalimat syahadat dan kalimat toyibah (Lailahailallah) sebanyak dua kali. Waktu ajal menjemput, tutur sang paman, Aslina sempat melafazkan kalimat toyibah dan syahadat. Secara perlahan-lahan gadis yang bekerja sebagai honorer di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Bengkalis ini tak bernafas.
Tepat pukul 02.00 waktu Malaysia, indikator monitor denyut jantung terlihat kosong atau berupa garis lurus. Tak pelak situasi ini membuat Rustam sedih, kemudian beberapa dokter MMC Malaka terlihat sibuk memeriksa dan mengecek kondisi Aslina. Waktu itu dia sempat menghubungi keluarganya di Bengkalis untuk memberitahu kondisi terakhir Aslina. Untungnya setelah dua jam ditangani dokter, monitor terlihat kembali bergerak yang menandakan denyut jantung gadis yatim ini berdenyut lagi. Untuk perawatan lebih lanjut, Aslina dimasukan ke ruang ICU dan baru dua hari dua malam kemudian ia dinyatakan melewati masa kritisnya.
Bertemu Sang Ayah
Menurut pengakuan Aslina, dia melihat ketika nyawanya dicabut oleh malaikat. Waktu itu, nyawanya dicabut dari kaki kanan oleh malaikat. “Rasanya sangat sakit, kulit seperti disayat, dibakar dengan minyak,” tuturnya. Setelah roh berpisah dengan jasad, dia menyaksikan orang-orang yang masih hidup dan jasadnya terbaring di tempat tidur. Kemudian dibawa dua malaikat menuju ke suatu tempat. Aslina mempunyai keinginan untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah lama meninggal, bernama Hasan Basri. “Wahai ayahku bisakah aku bertemu denganmu. Aku sangat rindu, oh ayah,” ucapnya. Memang di tempat itu Aslina bertemu dengan sosok pria muda berusia 17 tahun dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Melihat sosok pria muda tersebut, Aslina tetap ngotot ingin bertemu dengan sang ayah.
Kemudian, kedua malaikat memperkenalkan bahwa pria muda tersebut adalah ayahnya. Tentunya dia tidak menyangka karena waktu meninggal dunia, ayahnya berusia 55 tahun. Kemudian sang ayah bertanya kepada Aslina, maksud kedatangannya. Dia menjawab kedatangannya semata-mata memenuhi panggilan Allah SWT. Sang ayah menyuruh Aslina tetap pulang untuk menjaga adik-adiknya di dunia. Namun Aslina menjawab bahwa dirinya ke sini, memenuhi panggilan Allah. Waktu itu juga, dia menyebut rukun Islam satu persatu. Setelah berdialog dengan ayahnya, dua malaikat tadi membawa Aslina ke suatu tempat yang dipenuhi wanita memakai baju rapi dan berjilbab. Di situ, dia disalami dan dicium pipi kanan-kiri oleh wanita-wanita Muslimah tersebut. Tidak hanya itu, Aslina juga bertemu dengan 1.000 malaikat dengan wajah berseri dan seluruhnya sama.
Di tempat itu, Aslina duduk di kursi yang sangat empuk. Bila di dunia empuk kursi tersebut seakan dilapisi delapan busa. Ketika duduk, tiba-tiba sosok wanita berseri mirip dengan dirinya menghampiri. Dia bertanya kepada sosok wanita tersebut. “Saya adalah roh dan amal ibadah mu selama di dunia,” kata wanita tersebut. Kemudian Aslina ditemani amalnya (sosok wanita, red) dan dua malaikat menyaksikan beberapa kejadian di akhirat. Diantaranya, ada seorang pria berpakaian compang-camping, badannya bernanah dan bau busuk. Tangan dan kaki dirantai sementara di atasnya memikul besi seberat 500 ton. Melihat kejadian itu, Aslina bertanya kepada amalnya. Rupanya pria tersebut semasa hidupnya suka membunuh dan menyantet (teluh) orang.
Kejadian selanjutnya yang ia lihat, seorang yang disebat dengan rotan panjang sehingga kulit dan dagingnya mengelupas dari badan. Ternyata orang tersebut selama hidup tak pernah sholat bahkan menjelang ajal menjemput pun tak pernah menyebut syahadat. Aslina juga melihat, dua pria saling membunuh dengan kapak. Menurut keterangan amalnya, rupanya orang tersebut suka menodong dan memeras orang lain. Kemudian gambaran, seorang ustad yang dihantam dengan lahar panas yang mendidih. Kembali Aslina bertanya. Ustad tersebut selama hidup suka berzina dengan istri orang lain. Kejadian berikutnya, seorang ditusuk dengan pisau sebanyak 80 kali. Ini menunjukan orang tersebut suka membunuh dan tidak pernah dipertanggungjawabkan selama di dunia.
Kejadian terakhir, seorang ibu tua dihempaskan berkali-kali ke lantai. Di lantai tersebut terdapat pisau tegak dan dia tersungkur lalu mengenai tubuhnya, hingga mati. Gambaran tersebut menunjukan, selama hidupnya wanita tersebut merupakan anak durhaka, yang tidak mengakui ibunya yang pikun. Bahkan dia malu kepada orang lain.
Kisah tentang mati suri dan berbagai pengalaman ghaib yang dialami Aslina alias Iin (23), membuat heboh masyarakat Bengkalis, khususnya warga desa Pematang Duku, kecamatan Bengkalis, yang antara percaya dan tidak dengan cerita dalam mati suri itu. Berikut lanjutan kisah ‘perjalanan ghaib’ yang dituturkan Aslina Rabu silam di aula studio SJTV Bengkalis.
Menurut Aslina, setelah dirinya diperlihatkan dengan kejadian dan gambaran manusia, ia kemudian dibawa melewati malam yang sangat gelap gulita. Saking gelapnya, dia tidak bisa melihat amalnya dan dua malaikat yang mendampingi. Ketika kakinya berjalan tiga langkah, terdengar suara orang berzikir. Kemudian sang amal menyuruhnya untuk cepat menangkap suara tersebut. Tapi Aslina tidak bisa menangkap. Tiba-tiba waktu itu, lehernya dikalungi seutas rantai. Setelah dipegang ternyata rantai tersebut berupa tasbih sebanyak 99 butir.
Terdengar suara yang memerintahkan Aslina untuk berzikir selama dalam perjalanan. Dia berjalan lagi sepanjang tujuh langkah, namun waktunya sama dengan 10 jam waktu di dunia. Ketika sampai pada langkah ke tujuh, dia melihat wadah menyerupai tapak sirih berisi cahaya yang terpancar melalui lobang-lobangnya. Berkat cahaya tapak sirih tersebut, dia bisa melihat dan membaca tulisan Arab, berbunyi ‘Husnul Khotimah’. Di belakang tulisan itu terlihat gambar Ka’bah. Ketika melihat tulisan dan gambar Ka’bah seketika, dia dan amalnya tersenyum seraya mengucapkan Alhamdulillah. Aslina mendekati cahaya itu dan mengambilnya, kemudian disapukan ke mukanya. Ketika malam yang gelap gulita itu menjadi terang benderang.
Nabi Muhammad SAW
Setelah berjalan sekian jauh, dia mendengarkan suara azan yang suaranya tidak seperti di Indonesia, namun bernada Mekkah. Kepada amalnya, dia meminta waktu untuk menunaikan sholat. Setelah mengerjakan sholat, roh Aslina hijrah ke tempat lain dengan perjalanan 40 hari.
Tempat yang dituju kali ini adalah Masjid Nabawi di Madinah. Di masjid itu dia menyaksikan makam Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya. Di makam Nabi ada pintu bercahaya, terlihat sosok Nabi Muhammad SAW sedang memberi makan fakir miskin. Tidak hanya itu di Masjid Nabawi, dia kembali diperlihatkan kejadian menakjubkan. Tiba-tiba cahaya ‘Husnul Hotimah’ yang ada di tangannya lepas, kemudian mengeluarkan api yang menerangi seluruh ruangan sehingga makam Nabi terlihat jelas. Waktu itu dari balik makam Nabi, dia melihat sosok manusia, berwajah ganteng menyerupai malaikat, kulit langsat, mata sayu, pandangan luas terbentang dan tajam. “Raut muka seperti orang Asia (oval, red) namun tidak kelihatan kepalanya. Tapi saya yakin sosok manusia tersebut adalah Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Melihat peristiwa itu, lantas Aslina bertanya kepada malaikat dan amalnya. “Kenapa cahaya tersebut menerangi Nabi Muhammad SAW, sehingga saya bisa melihat. Dan kenapa wajah Nabi bercahaya?” Dijawab bahwa Anda adalah orang yang mendapat syafaat dan hidayah dari Allah. Mengenai wajah nabi yang bercahaya, karena selama mengembangkan agama Islam selalu mendapat tantangan. Perjalanan tidak di situ saja, Aslina dan pengawalnya berbalik arah untuk pulang. Rupanya ketika dalam perjalanan pulang dia kembali menyaksikan, jutaan umat manusia sedang disiksa dan menderita di sebuah lapangan. Orang-orang tersebut meronta dan berdoa minta agar kiamat dipercepat. Karena sudah tak tahan lagi dengan siksaan. Mereka mengaku menyesal dan minta dihidupkan kembali agar bisa bertaubat. “Jarak Aslina dengan mereka hanya lima meter, namun tak bisa memberikan pertolongan,” ujarnya. Selama melihat kejadian itu, Aslina membaca Al Quran 30 juz, Hafis (hafal) dan khatam tiga kali. Kemudian membaca surat Yasin sebanyak 1000 kali dan shalawat kepada seluruh nabi (Adam sampai Muhammad). Aslina berlari sepanjang Arab Saudi atau sepanjang Sabang sampai Marauke seraya menangis melihat kejadian tersebut. Aslina juga ingin diperlihatkan apa yang terjadi pada dirinya dikemudian hari. Namun sebelumnya dia diminta oleh malaikat untuk berzikir. Lamanya zikir yang dilakukan Aslina selama dua abad dan dua pertukaran zaman. Hal ini ditandai dengan 1 Syawal yang jatuh pada tanggal 31 Desember. Selesai berzikir, Aslina mendengar suara yang seperti ditujukan kepadanya. “Sadarlah wahai umat-Ku, kau sudah Ku matikan. Sampaikan kepada umat-Ku, apa yang Ku perlihatkan. Sampaikan kepada umat-Ku, umat-Ku, Umat-ku.”
Kejadian Aneh
Usai pengambilan gambar dan wawancara, terdapat kejadian aneh di gedung SJTV Bengkalis. Saat itu, Aslina sudah keluar dari ruangan menuju gedung Radio Pemda yang berjarak 25 meter. Ketika krew SJTV hendak mematikan monitor, ternyata tak bisa dimatikan. Namun anehnya muncul sosok bayangan putih bertubuh tegap dengan rambut terurai hingga ke pusar dan kepalanya bertanduk. Tentunya hal ini membuat para krew dan orang-orang yang menyaksikan heran, lantas momen ini diabadikan pengunjung dan krew SJTV. Setelah Aslina keluar dari ruangan Radio Pemda, ditanyakan apakah sosok tersebut. Dia menjawab bahwa sosok tersebut merupakan jin.
Menutup pengalaman ghaib anak penakik getah itu, sang Paman Rustam Effendi kepada wartawan menyebutkan, selama ini Aslina merupakan sosok yang pendiam dan kurang percaya diri (PD). Namun setelah kejadian ini banyak hal-hal yang berubah, mulai dari penampilan hingga tingkah laku. Bahkan dari warna kulitnya saat ini lebih bersih dan berseri. Mengenai amalannya, “Selama ini dia memang rajin mengerjakan shalat tahajud dan membaca Al Quran setiap hari,” kata sang paman menutup kisah tersebut. ***

Posted on Saturday, November 28, 2015 by Tun Aidil

No comments

Nov 18, 2015

Asalamualaikum, selamat pagi semua, Aku dah lame betul tak buka blog ni? memang usang dan ketinggalan zaman betul,, tak ape aku kene mulakan langkah yang lebih positif tahun ini, kene mula balik ... harap ada lah akan sokong aku nanti...

#pencetusummah

Posted on Wednesday, November 18, 2015 by Tun Aidil

No comments

Jan 10, 2015

MALAM sudah buta benar. Tiada apa lagi yang sesuai dilakukan pada waktu-waktu sebegini melainkan hanya tidur. Namun, tetap ada manusia yang tidak menggunakan nikmat pemberian ALLAH itu sebetul-betulnya. Ada yang waktu malam baru hendak ‘menikmati kehidupan’. Orang putih kata, nightlife.
“Jadi kau memang nekadlah ye kerja kat situ?” Entah kali ke berapa Hakimi menanyakan soalan itu. Lelaki itu nampaknya susah hendak percaya dengan keputusan yang rakan serumahnya itu ambil.
Faqih menutup buku yang dibacanya. Tiada mood lagi untuk meneruskan pembacaan. Dia yang berbaring di atas sofa menukar posisi, duduk pula. Soalan Hakimi itu dibalas dengan pandangan matanya yang tidak berkelip beberapa ketika. “Kenapa susah sangat kau nak percaya ha? Salah ke aku jadi driver?”
“Hmmm… taklah salah. Tapi aku tak fahamlah dengan kau ni, Faqih. Kadang-kadang aku rasa kau ni macam… ermmm…” Hakimi mengherot-herotkan bibir. Tidak tahu perkataan apa yang sesuai untuk menyambung ayatnya itu. Macam apa ya?
Faqih mengangkat sebelah kening. “Macam? Ha, macam apa?!” Terjah Faqih.
Hakimi menggaru-garu kepala. Bingung dia mencari perkataan yang sesuai untuk digunakan. “Macam ni, Faqih. Aku tak faham kenapa kau nak jadi diri orang lain. Rasanya tak salah kan kalau kita guna nikmat kehidupan yang ALLAH dah bagi?”
“Aku pulak tak faham dengan apa yang kau cakap, Kimi. Aku rasa aku tak pernah jadi diri orang lain. Aku jadi diri akulah!” Bidas Faqih, menidakkan kata-kata Hakimi.
Hakimi mengeluh… entahlah. Susah mahu cakap dengan orang yang ‘berpendirian tegas’ atau dengan istilah betulnya ‘degil’ sebegini. Sejujurnya, dia sendiri tidak faham bagaimana Muhammad Faqih yang sebenar walau mereka sudah menjadi kawan semenjak dari sekolah rendah lagi.
Muhammad Faqih memang misteri orangnya…
“Dahlah, Kimi. Tak payah susah-susah fikir pasal aku sangat. Aku tahulah apa yang aku buat,” ulas Faqih bagi menutup topik tersebut daripada terus menjadi perbahasan sengit.
Hakimi mengangkat bahu. ‘Lantak kaulah, Faqih!’ Hatinya berbisik. Cawan kopi di tangannya dicicip setelah agak lama dibiarkan wap panas merebak ke udara. Ah, sungguh nikmat menghirup kopi di tengah-tengah malam buta!
“Kau minum kopi, Kimi? Apa? Kau tak nak tidur ke?” Soal Faqih, kebetulan terperasankan cawan yang dipegang oleh Hakimi.
“Kau macam tak kenal aku, Faqih! Aku ni hantu kopi. Tak kiralah, siang, malam, pagi, petang, senja, subuh, sebelum subuh… kalau aku nak layan, aku layan,” jelas Hakimi panjang lebar.
Faqih hanya terangguk-angguk selepas itu. Nah, sekarang baru moodnya hendak membaca datang balik. Lantas buku yang tadi sudah ‘dikhatamnya’ awal-awal itu dibuka semula. Tidak lama kemudian, kerutan-kerutan mula jelas kelihatan di dahinya… menandakan dia mula serius dengan pembacaannya. Syhhh… tak boleh kacau!
“Ha, hello! Taufiq? Ha, kenapa?” Suara Hakimi memecahkan kembali ruang tamu rumah yang baru hendak sunyi sebentar tadi itu, sebaik dia menjawab telefonnya yang menjerit minta diangkat.
“Laaa… kau ni spoil betullah! Tulah, lain kali kalau nak dating dengan awek, periksalah dulu kereta tu betul-betul. Hisy, buat malu kaum playboy je!” Berdegar-degar suara Hakimi ‘menyembur’ gerangan yang berada di hujung talian.
Faqih hilang tumpuan lagi. Hakimi dijeling dengan ekor matanya.
“Haaa, yalah. Nanti aku suruh Faqih datang ambik kau. Okey, bye. Heiii… sengal betul mamat ni!” Hakimi terus menyumpah-nyumpah tidak puas hati walaupun talian telah dimatikan. Marah betul dia.
Faqih sudah mengherotkan sebelah bibir. Dia tahu, pasti ada sesuatu yang perlu dilakukannya sebaik mendengar namanya disebut tadi oleh Hakimi.
“Faqih, kau pergi jemput Taufiq boleh tak? Kereta dia rosaklah. Tulah… nak pakai kereta mewah sangat, beli second hand sebab tak mampu. Tengok, sekarang dah hang tengah jalan dengan awek! Heiii… kalau akulah, aku dah menyorok dalam gua kat Zimbabwe!” Hakimi terus membebel macam mak nenek. Amboi, bukan main lagi dia!
Faqih menahan nafas yang entah kenapa terasa berasap dan berwap saja. Sabar, Faqih, sabar. “Sesuka hati kau aje mengarah aku. Kau pun agak-agaklah… aku mana ada kereta! Honda Petak buruk tu aje! Kau kan ada Preve, apahal aku pulak yang kena pergi jemput dia?”
Hakimi diam. Mungkin terinsaf sikit agaknya dengan kata-kata rakan serumahnya itu.
Namun… beberapa saat kemudian.
“Faqih, malam ni aku kasi chance kat kau. Kau bawaklah Preve aku tu.” Tersengih-sengih Hakimi sambil mendekati Faqih lalu ditepuk-tepuknya bahu lelaki itu.
“Apa dia? Itu bukan kasi peluang. Itu namanya kau malas! Hmmm… yalah, yalah. Nasib baik Preve. Kalau kereta kancil berlapuk kau yang dulu tu aku dah kirim salam awal-awal.” Faqih mengalah. Tidak mengapalah… lagipun inilah peluangnya hendak merasa bawa Preve. Tetapi petang tadi lagi dahsyat. Dia berpeluang memandu BMW 528i kepunyaan Tan Sri Kamarul.
Macam-macamlah hidup ini.
“Amboi, amboi kau, Faqih! Eh, kancil berlapuk tulah yang dah berjaya bawak aku ke menara gading tau! Yang berlapuk-lapuk tulah yang hantar aku pergi kuliah hari-hari masa kat universiti dulu. Kau sesuka hati aje merendahkan martabat kancil aku!” Terasa juga mamat bernama Hakimi itu apabila kereta kancilnya yang sudah menjadi besi buruk agaknya direndah-rendahkan. Barang berjasa, memang akan dikenang-kenang.
Faqih ketawa. “Aku minta maaf. Saja aje nak buat kau panas. Ha, mana kunci Preve? Aku tak sabar ni!” Berkobar-kobar semangat si jejaka. Tapak tangan sudah pun bersiap sedia ditadahkan.

Posted on Saturday, January 10, 2015 by Tun Aidil

No comments

“ Hoi, hidup lagi kau,” terdengar suara seorang perempuan yang sedang menghampiri Arianna sambil mendukung baby comel. Tak ada insurans betul mulut perempuan ni. Detik hati kecil Fariq.

“ Ada jugak orang makan dengan tiub karang,” balas Arianna sambil mengambil bayi comel itu yang sudah menghulurkan tangannya untuk disambut Arianna.

“ Gurau ajelah. Aku sayang kau. Tak nak sebut lagi benda ni, okay,” kata gadis itu.

Matanya memandang Fariq. Sepanjang dia berkawan dengan Arianna belum pernah dia kenal lelaki kacak ini. Memang tak dinafikan lelaki itu sememangnya kacak. Macam model pun ada. Untunglah siapa yang dapat mamat ni. Jangan cakap Rianna punya. Desis gadis itu di dalam hati.

“ Baby Zarra rindu mama, eh. I'm here, sayang,” kata Arianna lembut sambil memandang bayi comel itu dengan penuh sayang.

“ Babe, lelaki handsome ni siapa? Tak pernah tengok pun,” soal gadis itu memuji Fariq terang-terangan.

“ Oh, lupa pulak. Awak, ni kawan saya, Amani. Ni Rayyan, kawan baru aku,” Arianna memperkenalkan kedua-duanya. Masing-masing menganggukkan kepala.

“ Saya nak pergi surau, nak solat zohor. Then nak pergi kantin. Nak pesan apa-apa tak?” soal Fariq kepada Arianna.

“ Kejap. Mak cik, anak aku dah makan ke belum?” soal Arianna kepada Amani. Amani menggeleng. Dah agak dah. “ Awak tolong belikan bubur kosong boleh tak?” Arianna memandang Fariq yang sudah berada di pintu. Dia hanya mengangguk sebelum menghilangkan diri.

“ Eh, nenek. Macam mana kau boleh kenal mamat handsome tu, huh?” soal Amani apabila pasti Fariq sudah jauh.

“ Kau ni kan. Tak habis-habis nak bergosip. Tak adanya kenal-kenal bagai. Aku pun baru jumpa dia hari ni,” jawab Arianna jujur. Dari A sampai Z, dia ceritakan kepada Amani. Tak tinggal sedikit pun.

“ Untunglah kau. Boleh dapat suami handsome macam tu. Ada hikmah jugak la bakal isteri dia meninggal,” ujar Amani selamba.
       
“ Mulut tu aku sumbat baby Zarra ni baru kau tahu. Tak baik tahu tak. Mungkin aku tak kahwin pun dengan dia lepas dia tahu aku bukan penyebab bakal isteri dia kemalangan,” balas Arianna.

Dia tahu Fariq akan menarik balik lamarannya pagi tadi. Masakan lelaki itu sanggup berkahwin dengan perempuan yang langsung tak ada kena mengena dengan dia. Tambahan pula, gadis kesayangan dia baru sahaja meninggal dunia.

“ Yelah. Aku nak balik dah ni. Kau rehatlah. Nak aku bawak Zarra balik ke?” Amani membetulkan tudungnya.

“ Tak payahlah. Nanti aku suruh orang datang ambil dia. Tak puas lagi lah main dengan dia. Lagipun dia tak makan lagi,” Arianna menjeling sahabatnya itu. Macam manalah agaknya anak-anak Amani nanti kalau asyik terlupa sahaja nak bagi makan.

“ Okay,” balas Amani pendek.

“ Kau dah buat apa yang aku suruh tu?” tanya Arianna serius.

“ Dah. Polis dah tangkap lelaki tu. Sekarang ni dia tengah kena soal siasat. Kalau ada apa-apa hal, pihak polis akan call aku,” beritahu Amani.

“ Thanks, Amani. Akhirnya dia tertangkap jugak,” kata Arianna. “ Kalau ada apa-apa hal, kau bagitahu aku, ya,” pnta Arianna. Amani mengangguk.

“ Okaylah. Aku balik dulu, eh. Nanti bila-bila aku datang lagi. Ni beg Zarra aku letak kat kerusi,” kata Amani sebelum memeluk sahabatnya itu. Amani sudah keluar dari bilik wad Arianna. Tinggallah Arianna berdua dengan Zarra.

       
Dicium-ciumnya anak kecil itu. Sejak Zarra lahir, Arianna tidak pernah meninggalkan bayi itu lama-lama. Diagahnya bayi itu. Mengekek ketawa Zarra diusik begitu. Comel. Sedang bermain-main dengan Zarra, muncul Fariq di muka pintu. Tangannya memegang satu bungkusan. Bubur pesanan Arianna agaknya. Fariq menghulurkan bekas itu kepada Arianna. Arianna mengambilnya dan meletakkan bekas itu di atas almari kecil di sebelah katil. Dia membaringkan sedikit Zarra agar senang untuk menyuap bubur.

“ Awak, tolong tuangkan air suam kat dalam cawan tu, “ pinta Arianna. Fariq hanya mengikut tanpa merungut apa-apa. Mana pergi belangnya pun tak tahu. Tak sampai dua puluh empat jam pun, Arianna dapat melihat bermacam-macam watak dalam diri Fariq. Disebabkan kaki Arianna tak dapat digerakkan, dia perlukan bantuan untuk membantunya.

“ Siapa baby ni? Anak awak ke?” soal Fariq ingin tahu. Arianna yang sedang menyuap bubur ke mulut Zarra memandang Fariq sepintas.

“ A'ah. Anak saya, Zarra Adya,” jawab Arianna.

“ Awak dah kahwin?” soal Fariq lagi. Tergelak Ariana dibuatnya. Kalau den sudah kahwin, macam mana den boleh setuju nak kahwin dengan awak tadi, Encik Fariq Rayyan oi.

“ Belum. Ni anak saudara saya. Anak arwah abang saya,” beritahu Arianna. Dia meneruskan suapan. Berselera sekali Zarra makan. Lapar barangkali.

“ Owh, comel. Muka dia macam awak je,” kata Fariq ramah.

“ Orang tua-tua cakap budak-budak akan ikut muka pengasuh dia. Maybe sebab itulah kot. Tapi dah nama pun anak arwah abang saya, mungkin ada iras-iras la kot,” jawab Arianna.

“ Mana ibu dia? Satu lagi, kenapa awak namakan baby tadi dengan Syafa Akira?” akhirnya terkeluar juga benda yang berlegar di mindanya.

“ Entahlah. Dah agak dah awak nak tanya. Arwah bakal isteri awak yang namakan. Saya cuma sampaikan,” balas Arianna sambil tangannya sibuk menyuap Zarra.

“ Tadi awak cakap awak tak ingat pasal kejadian tu,” Fariq sudah melabuhkan punggungnya di kerusi di sebelah kanan Arianna.

“ Saya malas nak bercerita lebih. Saya takut kalau awak tahu, awak berdendam dengan Encik Murad pulak. Dia masih ada tanggungjawab,” jawab Arianna. Dia takut untuk bertentang mata dengan Fariq.

“ Habis, kau tak ada tanggungjawab? Ni baby Zarra siapa nak jaga?” tegas Fariq berkata-kata.

Geram kerana gadis itu sanggup menipunya. Dia bukannya kejam sangat. Sejak mengetahui hal sebenar sebentar tadi, segala kemarahan dan dendam telah hilang. Dia tidak sepatutnya terburu-buru menyalahkan sesiapa. Mungkin sudah tiba masanya Airis pergi meninggalkan mereka.

“ Baby Zarra ni ada mak dia lagi. Atuk and nenek pun dia ada. Saya yang salah sebab tak nampak ada motorsikal yang melintas,” jawab Arianna perlahan. Mereka diam seketika. Masing-masing melayan perasaan.

“ Saya ada pesanan untuk awak,” Arianna memandang Fariq yang ralit merenung Zarra.

“ What?” soal Fariq pendek tanpa memandang Arianna.

“ Saya sempat dengar arwah suruh saya cari Fariq and orang itu adalah awak kan? Dia cakap dia... dia sayang awak sangat-sangat,” akhirnya selesai sudah tanggungjawabnya kepada arwah Airis. Dia tidak perlu mencari lelaki itu kerana lelaki itu sendiri yang datang kepadanya.

“ She said that?” Fariq memandang Arianna dengan perasaan yang terkejut. Arianna mengangguk.

“ Dia tak cakap pun saya tahu dia sayang saya. Tapi kenapa dia pergi dulu?” lirih suara Fariq. Timbul rasa simpati terhadap Fariq.

“ Awak ni. Tak baiklah cakap macam tu. Dah takdir dia pergi hari tu. Awak kenalah redha,” Arianna cuba menenangkan Fariq. Sudahlah baru kenal, pandai-pandai pula dia nasihatkan lelaki itu. Masa arwah abangnya meninggal dulu pun makan masa berbulan juga dia bersedih.

“ Terlalu pantas benda ni jadi. Kami dah berjanji untuk membesarkan anak-anak kami. Nak melancong bersama,” rintih Fariq lagi. Entah kenapa dia berasa selesa menceritakan perasaannya kepada Arianna.

Akhirnya menitis juga air mata yang ditahannya sejak hari arwah Airis meninggal. Dia menangis? Whooaa! Arianna membiarkan sahaja Fariq menangis. Biarlah dia meluahkan segala yang terbuku supaya lega hati lelaki itu. Fariq menunduk sedikit. Malu kerana menangis di hadapan Arianna yang baru sahaja dikenalinya.

Zarra menolak apabila Arianna ingin menyuapkan bubur nasi. Mungkin sudah kenyang. Arianna meletakkan bekas bubur dan mencapai cawan yang berisi air suam dan disuapkan ke mulut Zarra. Kemudian, Arianna mendudukkan Zarra dan menggosok lembut belakang Zarra. Errrgggkkk! Zarra bersendawa. Arianna cuba menahan ketawa. Kelakar pula apabila Zarra sendawa kuat.

Fariq menyembunyikan senyumannya. Dia turut terkesan mendengar sendawa si kecil comel itu. Dia mengangkat mukanya setelah pasti air matanya sudah disapu. Zarra tersenyum comel memandangnya. Sebentar tadi sempat tangan comel Zarra mencapai rambut Fariq. Keletah si kecil juga yang menenangkannya.

“ Boleh saya dukung?” tangan Fariq sudah bersedia untuk mengambil Zarra. Zarra turut berbuat demikian. Arianna meyerahkan Zarra kepada Fariq. Dia membetulkan duduknya. Berbaring sedikit. Lenguh sangat. Bilalah agaknya kakinya itu akan sembuh. Mahunya makan masa berbulan. Kena selalu buat fisioterapi lagi. Malasnya.

“ Nasib baik awak pakai perfume favourite dia. Kalau tak memang dia takkan bagi awak pegang dia punyalah,” kata Arianna. Si comel ini memang agak memilih orangnya. Tak padan dengan kecil. Sesiapa yang ingin berkahwin dengan Arianna sudah diletakkan syarat iaitu Zarra mestilah suka akan lelaki itu. Fariq? Lulus? Tak boleh! Hati Arianna sudah mula gelisah.

“ Perfume saya? Boleh pulak macam tu. Kenapa cute sangat ni? Geramlah,” Fariq mencubit lembut pipi tembam milik Zarra.

       
“Assalamulaikum. Boleh kami masuk?” Terkejut Fariq dan Arianna dibuatnya. Siapakah gerangan pemberi salam itu. Arianna terjenguk sedikit. Fariq sudah macam cacing kepanasan. Tak senang duduk. Apa tidaknya. Mereka adalah ibu bapanya dan ibu bapa arwah Airis.

“ Waalaikumsalam. Masuklah," jemput Arianna. Dia menoleh ke arah Fariq.

“ Parent saya and arwah,” beritahu Fariq perlahan. Datuk Rasyid, Datin Katrina, Encik Halim dan Puan Sarimah sudah masuk dan berada di hujung katil Arianna. Fariq masih mendukung Zarra memandangkan Arianna kelihatan penat. Dia bangun dan bersalaman dengan keempat insan kesayangannya itu.

“ Papa, mama, ibu and babah buat apa kat sini?” soal Fariq.

“ Tak nak kenalkan orang yang bertanggungjawab dalam kemalangan Airis kat kami ke?” Datuk Rasyid sudah berang dengan anak lelakinya. Orang lain sibuk berkabung tapi dia di sini menggatal dengan perempuan lain.

“ Ni Arianna. Dia bukan penyebab kematian Airis,” Fariq cuba membela Arianna. Arianna hanya diam tidak berkutik. Dia tidak mahu bergaduh dengan empat orang penting Fariq.

“ Amboi, dia bela pulak perempuan ni. Habis tu siapa yang sebabkan Airis tinggalkan kita semua?” Datin Katrina bersuara. Geram pula apabila anaknya beria-ia membela Arianna. Encik Halim dan Puan Sarimah hanya diam. Mereka sangat bersedih dengan pemergian satu-satunya anak perempuan mereka.

“ Mama, Arianna bukan penyebab kematian Airis. Siapa penyebabnya? Papa, Mama, Babah, Ibu kena tanya Allah. Dia yang tentukan hidup, mati dan jodoh setiap manusia di muka bumi ini,” Fariq menyerahkan Zarra kepada Arianna yang sudah duduk bersandar kembali. Tertidur rupanya. Berhati-hati Arianna memangku Zarra dengan kedua tangannya. Dia tak boleh meriba bayi itu. Memang lenguhlah nanti.

“ Jomlah kita balik. Betul juga cakap Fariq tu. Tak ada gunanya kita salahkan budak perempuan ni. Dah takdir Airis pergi dulu,” kata Puan Sarimah. Dia sudah redha sebaik mendengar kata-kata Fariq sebentar tadi. Betapa jahilnya mereka bertanya akan penyebab kematian Airis. Macam orang tidak mempunyai ilmu agama.

“ Tapi...,” Datin Katrina memandang Puan Sarimah.

“ Betul tu, Ina, Syid. Mungkin sudah takdir anak kami pergi dulu. Cukuplah. Saya malas nak membesarkan perkara ni,” ujar Encik Halim senada. Dia sudah penat.

“ Apa yang babah and ibu cakap tu betul, mama, papa. Riq juga bersalah sebab tuduh Arianna. Riq datang sini sebab Riq nak balas dendam. Tapi Riq tak sangka Arianna bukanlah penyebabnya. Riq redha. Kuasa Allah lebih hebat,” ujar Fariq sayu. Mereka yang berada di situ agak terkejut dengan kata-kata Fariq. Mereka tidak menyangka Fariq akan turut berdendam terhadap Arianna.

Encik Halim dan Puan Sarimah meminta diri untuk pulang dahulu. Fariq merapati mama dan papanya. Dia memandang orang kesayangannya. “ Riq minta maaf sebab buat keputusan melulu. Riq dah melamar Arianna di depan orang tua dia. Riq cuma tahu nak balas dendam saja tapi lepas tahu kebenaran, Riq tak tahu nak buat apa,” luah Fariq perlahan. Namun Arianna masih mendengarnya. Dia menanti keputusan seterusnya daripada Fariq dan ibu bapanya.

“ Apa yang Fariq dah buat ni. Airis baru saja meninggal, kamu dah nak berkahwin dengan orang lain pula,” ujar Datin Katrina sayu.

Sungguh dia tidak faham sikap anaknya sekarang. Sudahlah dilamarnya perempuan itu di hadapan ibu bapanya. Takkan mahu membatalkan pula. Haru betul. Datin Katrina memandang suaminya. Mungkin suaminya ada jalan keluar. Nasib baik ibu bapa arwah Airis sudah pulang. Kalau tidak memang nahas. Mereka akan menganggap Fariq tidak serius akan hubungannya dengan arwah Airis.

“ Kamu setuju Arianna?” Datuk Rasyid merenung ke arah Arianna. Arianna memandang insan-insan yang tiba-tiba muncul di dalam hidupnya dalam masa sehari.

“ Hmmm, tadi saya dah bersetuju,” jawab Arianna perlahan. Dia membetulkan duduknya.

 “ Macam ni lah. Papa nak Fariq balik dan fikir semula keputusan Fariq untuk kahwin dengan Arianna. Papa tak mahu kamu menyesal pulak. Airis baru sahaja pergi. Tak adil untuk Arianna. Arianna pun cuba berbincang semula dengan ibu bapa kamu,” ujar Datuk Rasyid. Ini yang terbaik buat masa sekarang. Dia tidak mahu anak tunggalnya itu tersilap langkah. Kalau tersungkur, sakit rasanya.

“ Mama and papa balik dulu. Biarlah mereka berdua berbincang, bang. Kita tak payah masuk campur. Kami ikut aje apa pun keputusan kamu,” kata Datin Katrina. Datuk Rasyid mengangguk. Bersetuju dengan cadangan isterinya.

“ Bincang elok-elok. Baby ni anak kamu ke, Arianna?” tanya Datuk Rasyid ingin tahu.

“ Hah? Anak saudara saya,” jawab Arianna. Dia agak takut juga walaupun Datuk Rasyid dan Datin Katrina sudah tidak marah-marah.

“ Owh, comel. Kami balik dulu. Fariq, papa tunggu kat rumah,” kata Datuk Rasyid. Sempat lagi dia memuji kecomelan Zarra.


Fariq masih diam sambil memandang ke luar jendela hospital. Sudah sejam sejak Datuk Rasyid dan Datin Katrina pulang, Fariq dan Arianna diam. Tidak langsung membincangkan hal perkahwinan yang tergesa-gesa itu. Zarra sudah terjaga dari tidurnya. Arianna pantas mencapai beg dan mengambil botol susu lalu disuakan ke mulut Zarra. Diusap rambut Zarra.

“ Encik Rayyan,” panggil Arianna. Fariq berpaling ke arah suara lembut yang memanggilnya itu. Dilihatnya Arianna sedang menyusukan Zarra. Comel sungguh baby itu. Tembam. Fariq mengangkat keningnya. “ Tolong panggilkan nurse kat luar tu boleh tak? Saya nak pergi toilet,” pinta Arianna. Tanpa kata, Fariq berlalu keluar dan menuju ke kaunter yang tidak jauh dari bilik Arianna. Fariq kembali dengan seorang jururawat perempuan.

“ Cik nak pergi toilet?” soal jururawat itu sopan. Arianna mengangguk. Dia menyerahkan Zarra kepada Fariq. Fariq menyambut Zarra dan berlalu ke sofa yang terletak di dalam bilik itu. Dia membaringkan sedikit Zarra dan menyambung susukan baby comel itu. Arianna sudah berlalu ke tandas bersama jururawat muda itu. Agak susah juga Arianna ingin bangun untuk duduk di kerusi roda itu namun digagahkan juga.

Posted on Saturday, January 10, 2015 by Tun Aidil

No comments

Mar 30, 2014

“ Aku nak kau kahwin dengan aku,” seperti arahan Fariq meluahkan kata-katanya kepada gadis di hadapannya itu. Gadis itu memandang Fariq tidak berkelip. Seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan jejaka di hadapannya ini.

“ Maafkan, saya. Awak ni siapa? Saya tak pernah jumpa awak pun sebelum ni,” terluah juga perkara yang berlegar di kepalanya yang berbalut itu.

“ Itu kau tak perlu tahu. Aku cuma nak kau kahwin dengan aku saja. Kau bolehlah beritahu parent kau,” ujar Fariq sambil badannya di kalih daripada memandang gadis itu. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam poket slacknya itu sambil membuang pandang ke luar jendela wad gadis itu.

“ Awak dah gila ke apa? Saya tak kenal awak la. Parent saya takkan senang-senang benarkan saya berkahwin dengan awak,” balas gadis itu separuh menjerit. Di pegang kepalanya yang berdenyut-denyut. Dia menekan kepalanya perlahan. Badannya turut berasa sakit.

“ Itu tak penting. Aku sendiri yang akan berunding dengan parent kau. Aku akan pastikan mereka akan bersetuju,” ujar Fariq lagi tanpa menoleh sedikit pun ke arah gadis itu. 

Tiba-tiba dia terdengar bunyi pintu wad itu terbuka. Muncul doktor bersama jururawat tergesa-gesa menuju ke katil gadis itu. Doktor itu memandang Fariq yang kelihatan selamba sedangkan gadis itu sedang bertarung dengan kesakitannya.

“ Maafkan kami, encik. Sila tunggu di luar. Keadaan pesakit tidak stabil buat masa sekarang,” pinta jururawat yang sedang bertugas itu. Fariq mengangguk lalu berlalu keluar. Dia masih akan datang ke sini sehingga gadis itu bersetuju untuk mengahwini.

Fariq akan pastikan gadis itu jatuh ke tangannya. Dia akan pastikan gadis itu takkan bahagia. Kerana gadis itulah, Airis pergi meninggalkannya. Menurut saksi yang menyaksikan tragedi itu, kereta gadis tersebut yang tiba-tiba datang dari arah bertentangan. Ketika itu, Airis terkejut dan tidak dapat mengelak. Lalu berlakulah perlanggaran di antara kereta Airis dan gadis itu. Airis tidak dapat bertahan dan menghembuskan nafasnya ketika dalam perjalanan ke hospital.

Fariq tidak menyangka malam itu adalah malam terakhir dia dan Airis bertemu. Juga malam terakhir mereka berborak. Tinggal seminggu sahaja lagi sebelum majlis perkahwinan mereka akan berlangsung. Namun, Airis terlebih dahulu pergi menghadap Ilahi. Alangkah terkejutnya Fariq apabila dia mendapat panggilan telefon daripada Encik Halim yang memberitahu pemergiaan gadis kesayangannya. Hatinya benar-benar hancur tatkala mendapat berita itu.

Sebaik mengetahui mengenai orang yang bertanggungjawab akan kemalangan itu, Fariq nekad untuk membalas perbuatan orang itu. Dia berjanji untuk membalas dendam. Hati Fariq sudah mati dengan perasaan kasih sayang sejak Airis pergi meninggalkannya. Yang tinggal hanya dendam kesumatnya.


Sebaik menerima panggilan dari hospital Tan Sri Kasyfi dan Puan Sri Harlina segera ke hospital untuk bertemu dengan anak tunggal mereka, Arianna. Mereka menuju ke kaunter untuk bertanyakan wad Arianna dan suami isteri itu berlalu ke wad yang diberitahu jururawat di kaunter itu. Sesampainya mereka di situ, mereka ternampak seorang jejaka sedang berada di luar wad Arianna.

“ Assalamualaikum,” ucap Tan Sri Kasyfi kepada jejaka tersebut. Jejaka tersebut agak terperanjat.

“ Waalaikumsalam,” jawab jejaka itu sambil bersalaman dengan Tan Sri Kasyfi.

“ Kalau ikutkan nurse kat kaunter, ni wad anak saya. Kamu datang melawat orang yang kat dalam wad ni ke?” soal Tan Sri Kasyfi untuk memastikan mereka tidak tersilap wad.

Fariq mengagak mereka ini adalah ibu bapa gadis itu. Baik dia mengambil peluang ini untuk menjelaskan hal yang sebenar. Dia tidak mahu gadis itu lari. “ Memang encik tak salah rasanya. Saya memang datang melawat orang yang kat dalam tu. Dia kawan saya,” Fariq terpaksa berbohong.

“ Kalau macam tu jomlah masuk. Risau pulak uncle dengan keadaan anak uncle tu, “ ajak Tan Sri Kasyfi ramah.

“ Errr, uncle. Ada doktor tengah check anak uncle. Tadi keadaannya tidak stabil,” jelas Fariq jujur.
Sebab dia juga, gadis itu tidak stabil. Tan Sri Kasyfi mengangguk lalu menarik lengan isterinya untuk duduk di kerusi di sebelah wad itu. Fariq masih berdiri bersahaja dengan menyilangkan tangannya sambil bersandar di dinding wad itu.

“ Abang, kalaulah saya sorokkan fail yang abang bagi tu elok-elok, mesti Ria tak jadi macam ni,” terbit rasa bersalah di lubuk hati Puan Sri Harlina. Tan Sri Kasyfi mengusap lembut belakang isterinya untuk menenangkannya.

“ Benda dah jadi. Tak guna menyalahkan sesiapa,” balas Tan Sri Kasyfi. Fariq sudah merencanakan sesuatu di dalam mindanya. Dia akan meminta izin kedua ibu bapa gadis itu sendiri agar mereka mengizinkan anak mereka berkahwin dengannya.

“ Maafkan saya, uncle, auntie. Saya ada benda yang nak berbincang sedikit. Kalau saya tak mengganggulah,” Fariq mula berbasa basi.

Tan Sri Kasyfi mendongak sedikit memandang jejaka yang baru dikenalinya itu. “ Ada apa, ya?” soal Tan Sri Kasyfi. Fariq menarik nafasnya sebelum berkata.

“ Saya sebenarnya dah lama berkawan dengan anak uncle, so saya dah ambil keputusan untuk melamar anak uncle,” jelas Fariq sambil memandang Tan Sri Kasyfi dan Puan Sri Harlina bersilih ganti.

Alangkah terkejutnya kedua orang tua itu. “ Tapi, Rianna tak pernah beritahu kat kami pun sebelum ni pasal kamu,” balas Tan Sri Kasyfi.

“ Mungkin dia tak sempat agaknya,” kata Fariq. “ Saya harap uncle izinkan saya berkahwin dengan anak uncle. Saya sangat sayangkan anak uncle,” bohong Fariq.

“ Baiklah. Uncle akan bagi peluang Arianna untuk menjelaskankannya dan barulah uncle and auntie akan pertimbangkan,” ujar Tan Sri Kasyfi. Belum sempat Fariq membalas, doktor dan jururawat keluar dari wad Arianna. Cepat-cepat mereka menuju ke arah doktor itu untuk mengetahui keadaan Arianna.

Setelah mendengar doktor itu memberitahu keadaan Arianna, mereka bertiga segera bertemu dengan Arianna yang sudah stabil itu. Tersenyum Arianna dengan kehadiran kedua ibu bapanya itu. Sebaliknya dia canggung dengan kehadiran lelaki yang tidak dikenalinya itu.

“ Sayang okay ke?” soal Fariq sambil tersenyum memandang Arianna. Senyuman yang penuh kepura-puraan. Pelik Arianna dengan gelagat lelaki itu. Ibu bapanya pula tidak berkata apa-apa. “ Sayang jangan risau. I dah bagitahu parent you pasal hal kita,” kata Fariq selamba. Bulat mata Arianna dek terkejut. Nasib baik dia sudah stabil. Kalau tak, mati tekejut dia di sini.

“ Betul tu, Ria. Kenapa tak cerita dekat daddy dengan mummy tentang hubungan kamu dan...,” Tan Sri Kasyfi memandang Fariq. Dia terlupa pula hendak bertanyakan nama jejaka kacak itu.

“ Rayyan, uncle,” beritahu Fariq. Lebih baik dia memperkenalkan dirinya sebagai Rayyan. Dia tidak mahu  menempah bala dengan memberitahu nama panggilan yang biasa digunakan. Mahu sakit jantung kedua ibu bapanya. Biarlah mereka tidak mengenali ahli keluarganya.

“ Patutlah Ria selalu tolak pinangan kawan-kawan mummy tu, ya. Rupanya dah ada yang lagi kacak,” usik Puan Sri Harlina.

Aduh! Semakin lama, semakin panas hati Arianna. Kalaulah kakinya ini boleh berjalan, mahu ditumbuk-tumbuk lelaki yang bernama Rayyan itu. Harap muka sahaja handsome tapi perangai macam hampeh. Kutuk Arianna di dalam hati. Mukanya yang putih itu sudah merah menahan geram.

“ Daddy nak tahulah, Ria memang nak berkahwin dengan Rayyan ke? Kalau Ria sudah pilih Rayyan sebagai suami, daddy dan mummy tak halang,” ujar Tan Sri Kasyfi. Fariq tersenyum senang. Disebabkan kebodohan bakal mertuanya, dia akan pastikan rancangannya itu berjaya. Bakal mertua? Kira jadilah tu.

Arianna menarik nafasnya dan dihembus perlahan. Dengan lafaz bismillah. “ Ria memang nak bagitahu tapi Ria sendiri terlantar kat sini. Ria memang nak kahwin dengan Ra...Rayyan,” perlahan Arianna menuturkannya. Fariq yang mendengarnya tercengang. Biar betul minah ni. Tadi bukan main dia menolak. Namun, dia bersyukur gadis itu sudah memberinya peluang.

Kalau tidak kerana perasaan bersalahnya kepada Rayyan, sudah tentu dia tidak akan bersetuju. Doktor yang merawatnya sebentar tadi merupakan sahabat baiknya. Dia mengetahui tentang Rayyan melalui doktor itu, Doktor Shiha. Alangkah terkejutnya Arianna apabila mengetahui gadis yang kemalangan dengannya itu sudah meninggal dunia. Doktor Shiha turut memberitahunya mengenai Rayyan atau lebih dikenali sebagai Fariq, Fariq Rayyan anak Datuk Rasyid.

“ Baiklah. Uncle nak Rayyan hantar family Rayyan masuk meminang sebaik Rianna pulih,” ujar Tan Sri Kasyfi.

“ Errr, uncle. Maafkan saya sebab family saya berada di luar negara sekarang. Nanti saya cuba bincangkan dengan mereka,” bohong Fariq. Keluarganya tidak boleh mengetahui hal ini. Itu namanya menempah maut. Sudahlah Airis baru sahaja meninggal dan kuburnya juga masih merah. Sekarang, dia pula nak berkahwin.

“ Tak apalah, daddy. Kita buat yang wajib sahaja. Ria tak mahu majlis yang besar. Ria tak suka,” tipu Arianna. Maafkan Ria, mummy, daddy. Kenapalah dia perlu hidup begini. Mungkin takdir yang membawanya ke sini. Dia redha. Arianna sudi untuk menerima segala apa yang bakal di hukum oleh Fariq untuknya.

“ Kalau dah itu kata kamu, daddy turutkan,” setuju Tan Sri Kasyfi dengan permintaan anak tunggalnya itu. Puan Sri Harlina turut bersetuju. Biarlah anak tunggal mereka itu bergembira.

“ Terima kasih, uncle, auntie,” ucap Fariq. Dia kemudiannya berdiri di sisi Arianna. “ Terima kasih, sayang. I promise that i will be the best husband for you,” ucap Fariq kepada Arianna. Sudah tentulah tidak ikhlas. Cuma berlakon di hadapan bakal ibu bapa mertuanya sahaja.

“ Bila kamu nak langsungkan?” soal Puan Sri Harlina. Walaupun majlisnya ringkas, dia masih perlu membuat persiapan.

“ Kalau boleh biarlah Ria sembuh sikit, eh. Paling kurang pun biar tu balutan pocong kat kepala Ria ditanggalkan. Hodoh pulak tengok pengantin yang dah macam pocong,” gurau Tan Sri Kasyfi.

“ Daddy ni kan. Berlapik la sikit nak buat lawak sarkas pun. Dahla Ria tidur sorang kat sini,” tukas Arianna perlahan. Tergelak mummy dan daddynya. Anak gadis mereka yang seorang ini memang penakut.

“ Holah, gurau aje. Bukan selalu dapat usik kamu. Alihnya kita pulak yang di usik,” kata Tan Sri Kasyfi sambil ketawa yang masih bersisa.

“ Jom la, bang. Tadi kata ada date dengan kekasih baru,” Puan Sri Harlina mencuit siku suaminya itu.

“Amboi sakan daddy sekarang ni. Ada date segala. Siap berteman lagi, huh,” usik Arianna.

“Ish, kamu ni. Ada date dengan nenek Arianna lah. Nenek nak buat majlis doa selamat untuk Ria,” balas Tan Sri Kasyfi.

“ Owh, itu kekasih lama. Majlis doa selamat apanya, daddy. Tuan punya badan kat sini tak sembuh lagipun, ha,” balas Arianna. Fariq masih tercegat di hujung katil sementara mummy dan daddy Arianna setia disisi anak perempuan kesayangan mereka.

“ Biarlah, janji Ria dah boleh bercakap, boleh lagi mengusik, itu dah buat kami bersyukur sangat. Kamulah satu-satunya harta yang kami ada. Nenek pulak ada kamu aje as her cucu. Tak ada yang lain lagi dah. Mummy tak dapat bayangkan kalau kamu pun pergi tinggalkan kami macam arwah abang. Silap hari bulan, wad gila tempat mummy agaknya,” ujar Puan Sri Harlina panjang. Tapi ada orang nak Rianna mati, mummy! Arianna memandang Fariq yang sedang memandangnya tajam.

“ Jomlah, mamanya. Karang mengamuk pulak umi kat rumah tu. Rayyan tolong tengokkan Arianna ya. Kami cuma boleh harapkan kamu aje sekarang ni,” kata Tan Sri Kasyfi sambil menghulurkan tangannya untuk bersalam dengan Fariq. Kemudiannya dia memeluk dan mencium dahi Arianna. Puan Sri Harlina turut berbuat demikian. Sayu pula ingin meninggalkan anaknya yang seorang ini.

“ Uncle and auntie jangan risaulah. Saya teman Ar...Arianna hari ni,” janji Fariq. Dia masih cuba untuk menyebut nama gadis itu. Tadi dia ada terdengar Puan Sri Harlina menyebut nama penuh Arianna.
“ Terima kasih ya, Rayyan. Kami balik dulu,” pasangan suami isteri itu berlalu.


Kekok pula Arianna apabila dia berdua sahaja dengan Fariq. Segan sudah menerpa memandangkan hari ini adalah hari pertama mereka bertemu. Hari pertama dan lelaki itu sudah melamarnya. Arrrggghhh! Tension dibuatnya.

“Kenapa kau setuju nak kahwin dengan aku?” soal Fariq memecah kesunyian. Dia ingatkan gadis itu akan menolak lamarannya tadi.

“ Sebab saya sendiri yang rela masuk mulut harimau,” gumam Arianna perlahan.

“ Apa? Aku tak dengar,” kata Fariq sambil berjalan menghampiri Arianna. Dia berdiri betul-betul di sisi Arianna.

“ Erm, saya cakap saya memang suka pun main dengan harimau. Awak kan macam harimau. Tunggu masa aje nak terkam mangsa dia,” balas Arianna selamba.

 Matanya tidak berani bertentangan  dengan mata Fariq. Pandai pulak perempuan ni main-main! Fariq mencerlung memandang Arianna. Baginya gadis berani melawan setiap percakapannya.

“ Aku tak buat lawak sekarang ni. Cuba serius sikit, boleh tak? Tak pasal ada juga yang kena makan,” Fariq bersuara tegas.

“ Dah habis serius la ni. Saya tahu awak nak balas dendam pada saya. Saya yang sebabkan kematian bakal isteri awak kan, Encik Fariq Rayyan?” Arianna mendongak sedikit dan cuba mencari wajah kelat milik Fariq. Dia tahu nama aku? Musnah!

“ Kau kenal aku?” soal Fariq sambil merenung tajam anak mata Arianna. Arianna menunduk kerana malu kerana di tenung begitu.

“ Doktor tadi tu kawan saya. Dia yang bagitahu saya pasal awak,” balas Arianna. Fariq mengangguk lalu badannya di alihkan ke jendela.

“ Aku tak tahu kenapa aku bertindak macam ni. Mungkin aku tak boleh terima semua ni. Mungkin,” tidak semena-mena Fariq berkata begitu. Arianna terkebil-kebil. Boleh pula lelaki ni berlembut. Huh.

“ Betul ke parent awak kat oversea? I don't think so, Encik Rayyan,” duga Arianna.

“ Aku tak gila lagi nak beritahu dia orang pasal ni. Tak rela aku kena baham dengan harimau,” jawab Fariq sambil bergurau kecil. Dia tersenyum sinis. Belum sempat Arianna membalas kembali.


“ Assalamualaikum,” ucap seorang lelaki di pintu wad Arianna. Pantas Arianna memanggil Fariq yang sedang menjawab salam itu.

“ Awak, tolong ambil something yang boleh tutup kepala saya,” bisik Arianna.

 Fariq mencapai selendang yang terletak di dalam laci bersebelahan katil Arianna. Dia ternampak ada sesuatu yang berjuntai di laci itu. Tak sangka pula itu adalah selendang. Arianna cepat-cepat mengenakan selendang itu di kepalanya. Dengan aku tak apa pulak tak tutup, omel Fariq.

“ Maafkan kami mengganggu,” suara lelaki tadi akhirnya kedengaran sedikit jelas. Dia menunduk sedikit untuk menarik besi bagi menghalang kerusi roda isterinya itu bergerak. Terdapat seorang bayi comel di pangkuan isterinya. Baru dilahirkan agaknya.

“ Tak adalah. Encik ni siapa?” soal Arianna.

“ Saya Murad. Ini isteri saya, Khalijah. Dan ini anak kami yang baru lahir,” lelaki bernama Murad itu memperkenalkan dirinya dan keluarga kecilnya.

“  Owh, ada apa ya? Saya rasa saya tak pernah jumpa Encik Murad dan isteri. Staf daddy saya ke?” Arianna bertanya lagi. Fariq hanya memandang tetamu Arianna itu. Dia malas masuk campur urusan gadis itu. Seperti bodyguard Fariq berdiri di sisi Arianna.

“ Cik tak ingat kami ke? Errr...errr,” Murad memandang isterinya. Khalijah mengangguk sambil tangannya menarik lembut tangan suaminya. Ingin memberi semangat agaknya.

“ Kita pernah berjumpa, eh?” Arianna memandang suami isteri itu bersilih ganti.

“ Macam ni, kami datang sini sebab ingin memohon maaf di atas kesalahan saya. Kalau bukan kerana saya tergesa-gesa ingin menghantar isteri saya ke hospital, mungkin cik tak akan terlantar kat sini. Dan mangsa lagi seorang tu takkan meninggal dunia,” akhirnya terluah juga.

Arianna perasan akan tangan Fariq yang sedang dikepal itu. Harap-harap dia tak tumbuk Muradlah. Entah dari mana kekuatan Arianna, dia mencapai tangan Fariq yang sedang menahan geram itu. Fariq memandangnya tajam.

“ Relaks kejap. Saya nak dengar apa Encik Murad nak sampaikan. Tolong,” lembut suara Arianna mengalunkan kata-kata itu. Fariq sudah melepaskan tangannya yang dikepal tadi. Arianna menarik kembali tangannya apabila melihat lelaki itu sudah bertenang.

“ Ini suami cik?” Murad memandang Fariq. Dia perasan akan ketegangan Fariq sebentar tadi. Naik takut juga dia.

“ Saya, Arianna. Bukan suami saya, ini Rayyan. Dia bakal suami perempuan yang meninggal tu,” balas Arianna jujur. Alangkah terkejutnya pasangan suami isteri itu. Masing-masing menundukkan wajah mereka. Pucat.

“ Maafkan kami, Encik Rayyan. Kami tahu dengan memohon keampunan, kami tak dapat kembalikan bakal isteri encik,” Murad memberanikan dirinya.

“ Tahu pun kau,” keras nada Fariq bersuara. Dipandang pasangan itu seperti mahu ditelannya.

“ Encik Rayyan, sabar okay. Tak handsome lah marah-marah macam ni,” Arianna cuba bergurau. “ Saya tak salahkan Encik Murad pun. Jangan risau,eh,” kata Arianna. Arianna redha dengan apa yang sudah berlaku. Fariq membuang pandang ke luar jendela. Entah kenapa marahnya berkurang apabila mendengar kata-kata Arianna. Mungkin dia tahu bukan Arianna  penyebab kematian Airis.

“ Betul ke Encik Rayyan ni bakal suami Cik Airis?” Murad bertanya kepada Arianna.

“ Encik Murad tahu nama bakal isteri saya?” Fariq kembali memandang Murad. Suara yang keras tadi sudah mulai lembut.

“ Sebelum dia meninggal, kami sempat berbual. Err...maksud saya dia cuba membantu isteri saya yang tengah sakit nak bersalin time tu. Walaupun lemah, dia masih memberi kami semangat. Saya sempat juga bertanyakan namanya. Saya ingat ingin membalas budinya tapi saya tak sangka dia terlebih dahulu dijemput Ilahi,” ujar Murad.

“ Cik Arianna tak ingat ke masa kejadian tu? Kebanyakan saksi yang datang salahkan Cik Arianna sebab mereka ingat cik yang bersalah,” Khalijah memandang Arianna yang agak tercengang.

Dia bukan tidak ingat akan kejadian itu cuma dia tidak mahu membabitkan pasangan suami isteri ini. Arianna takut Fariq akan membalas dendam terhadap mereka. Biarlah dia sahaja yang menanggung.

“ Errr, mungkin trauma agaknya,” dalih Arianna.

“ Saya rasa sangat bersalah tak dapat membantu time tu, Saya tak sanggup nak tinggalkan isteri yang tengah sakit sorang-sorang kat situ. Apa yang dapat saya lihat Cik Arianna cuba untuk keluar dari kereta tapi tak boleh sebab kaki Cik Arianna tersekat kat kerusi pemandu,” jelas Murad.

Dia berhenti seketika sebelum kembali menjelaskan kembali keadaan ketika itu. “ Cik Arianna cuba lagi sambil menjerit dan akhirnya Cik Arianna berjaya. Awak cuba secepat mungkin merangkak ke kereta Cik Airis dan menarik badan Cik Airis jauh dari keretanya,” cerita Murad.

“ Suami saya berlari mambantu Cik Arianna. Beberapa saat kemudian, kereta milik Cik Airis meletup. Fahamlah saya, Cik Arianna cuba selamatkan Cik Airis daripada meletup sekali dengan keretanya. Mungkin Cik Arianna terbau petrol,” sambung Khalijah. Arianna diam. Fariq turut begitu. Dia sudah berdendam dengan penyelamat bakal isterinya. Timbul rasa kesalnya. Dia meraup rambutnya ke belakang.

“ Kau tak ingat apa-apa ke?” soal Fariq.

Arianna menggeleng kepalanya. Dia tidak mahu Fariq tahu dia mengingati setiap saat itu. Arwah Airis sangat menyayangi Fariq. Sebelum di bawa ke hospital, sempat Airis memberi nama kepada bayi Murad namun Murad tidak mendengar dek kerana cemas isterinya bersalin di situ juga. Arwah turut berkata sesuatu di telinga Arianna.

“ Tolong...cari...Fariq...dan cakap...saya...sayang dia...sangat-sangat,” ucap Airis perlahan sambil menahan kesakitan. Arianna hanya mampu mengangguk. Dan selepas itu Arianna pengsan. Sedar-sedar dia sudah berada di hospital dan muncul Fariq di hadapannya.

“ Kami suami isteri ingin memberi penghormatan kepada Cik Arianna bagi pihak Cik Airis untuk memberi nama kepada puteri sulung kami,” tutur Murad sambil mengambil bayi comel itu dipangkuan Khalijah dan dihulurkan kepada Arianna.

Arianna menyambut huluran Murad dan memangku bayi comel itu. Dia mengusap lembut wajah bayi itu. Kepala. Dahi. Mata. Pipi. Bibir. Lalu dicium penuh kasih sayang bayi itu. “ Puteri? Syafa Akira,” keluar satu nama dari mulut Arianna.

Menitis air mata Arianna saat menyebut sebaris nama itu. Itulah nama yang diberikan oleh arwah Airis kepada puteri comel itu. Nama watak dalam novel ' Sebenarnya saya isteri dia' setahunya kerana dia juga turut meminati novel itu. Fariq terperanjat apabila mendengar nama yang disebut oleh Arianna. Itu adalah nama impian dia dan arwah Airis untuk anak mereka kelak.

“ Syafa Akira? Sedap nama tu kan, sayang,” Murad mengusap lembut kepala isterinya.

Arianna masih menangis sambil tangannya mengusap lembut pipi bayi itu, Syafa Akira. Setelah puas menilik bayi comel itu, Arianna menyerahkan bayi kepada Fariq. Mungkin Fariq ingin mendukung bayi itu. Memang betul telahannya, Fariq mengambil bayi itu dari Arianna. Itu kali pertama Arianna melihat Fariq tersenyum. Handsome sangat. Hah, sudah. Jangan merepek Arianna! Pesannya sendiri.

“ Syafa Akira, huh? You look so cute,” lembut Fariq menuturkan kata-katanya itu. Kemarahannya sudah hilang apabila melihat wajah lembut milik bayi itu. “ Encik Murad, saya jadi bapa angkat Syafa Akira boleh?” tanpa memandang Murad, Fariq memohon keizinan.

“ Kami bangga sangat kalau Encik Rayyan nak ambil anak kami sebagai anak angkat encik. Seluruh hospital ni saya tadahkan,” balas Murad bersungguh-sungguh.

“ Terima kasih. Nanti bolehlah Encik Murad bagi alamat ya. Boleh saya pergi bermain dengan baby ni selalu,” ujar Fariq sambil mencium ubun-ubun bayi itu sebelum menyerahkannya kepada Murad.

Sayu Arianna mendengarnya. Dia berfikir sama ada ingin menyampaikan pesanan arwah Airis atau tidak. Selepas ini, mungkin dia tidak akan berpeluang bertemu dengan Fariq lagi memandangkan Fariq sudah mengetahui perkara sebenar.

“ Uit, jauhnya termenung. Dah sampai benua mana, Cik Arianna,” kata Fariq sambil melambai-lambaikan tangannya untuk menyedarkan gadis itu daripada lamunan.

“ Huh? Sorry,” ucap Arianna perlahan. Dia melepaskan keluhan. Namun perlahan.

“ Saya minta diri dulu ya. Isteri saya perlu berehat,” Murad meminta diri. “ Terima kasih juga sebab tak salahkan kami,” sambung Murad lagi.



Fariq dan Arianna hanya mengangguk dan menghantar pasangan itu dengan pandangan sahaja. Arianna membetulkan duduknya. Lenguh. Kakinya tidak boleh dilipat kerana kedua-duanya cedera. Hanya boleh dilunjurkan sahaja. Suasana menjadi beku kembali tanpa suara. Masing-masing melayan perasaan sebelum ada lagi tetamu yang datang.

Posted on Sunday, March 30, 2014 by Tun Aidil

No comments

ads